Mon to Fri at 08.00-16.00
PHONE - WA

081249678256

EMAIL

lctprogram99@gmail.com

PROBLEMATIKA LULUSAN PENDIDIKAN VS TENAGA KERJA

Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting sebagai salah satu media untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing, dimana saat ini Indonesia sedang dihadapkan dengan persaingan global, dimana tanggal 1 Januari 2014 Indonesia akan bersaing dengan 10 negara ASEAN yang dikenal dengan Asean Economic Community (AEC)/Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)  yaitu integrasi ekonomi ASEAN, dimana antar negara ASEAN dapat melakukan transaksi perdagangan secara bebas antar negara tanpa tarif, tenaga kerja dapat mengakses peluang kerja antar negara secara bebas, penanaman modal antar negara ASEAN secara bebas, serta kemudahan arus keluar-masuk prosedur antarnegara ASEAN di bidang perekonomian. Adapun 10 negara anggota ASEAN meliputi Indonesia akan bersaing dengan, Singapura, Myanmar, Malysia, Filipina, Laos, Kambodia, Brueni, Vietnam dan Laos.

Menurut Human Development Index yang diterbitkan UNDP tahun 2013 Indonesia([i]) menempati urutan 121 dari 149 Negara, untuk itu Indonesia harus menyiapkan diri untuk menjadi pelaku dalam era pasar bebas ini dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kompetensi tenaga kerjanya untuk mencegah banjirnya tenaga kerja terampil dari luar negeri ke Indonesia dan juga untuk memenangkan persaingan kerja di luar negeri; khususnya di bidang formal. Dan sebagai jawaban dan langkah kongkrit untuk menciptakan sumber daya manusia dan tenaga kerja yang kompeten, berkualitas dan berdaya saing dengan etos kerja yang tinggi adalah melalui pendidikan yang berkualitas.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) pada bulan September 2013([ii]) sebagai berikut:

Berdasarkan data statistik di atas menunjukkan bahwa lulusan SLTA menyumbang 43% (26% lulusan SLTA Umum dan 17% lulusan SMK) pengangguran dan lulusan perguruan tinggi menyumbang 9%  (3% lulusan Diploma I,II,III/Akademi dan 6% lulusan Universitas) dari total pengangguran di Indonesia yang mencapai 7.388.737 orang. Beberapa fakta di lapangan sering kita jumpai banyak calon tenaga kerja yang menyatakan bahwa mencari pekerjaan saat ini sulit atau jumlah lowongan kerja tidak sebanding dengan jumlah calon tenaga kerja, hal ini menjadi tidak relevan ketika kita mencoba melihat banyaknya lowongan kerja yang setiap hari diunggah di internet maupun di media cetak, yang berarti bahwa alasan tersebut patut dipertanyakan. Dan MAGISTRA UTAMA telah membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, dimana lulusan MAGISTRA UTAMA setiap tahunnya (+ 4000 orang), 94% diantaranya dapat memperoleh pekerjaan bahkan sebelum kelulusan atau yang biasa disebut wisuda.

Sejak 1 Juni 1996 MAGISTRA UTAMA menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan program 1 tahun (lulusan SLTA) dan mahasiswa (untuk program kursus singkat dan juga pembekalan dunia kerja), ada beberapa permasalahan pendidikan (pendidikan menengah atau pendidikan tinggi) yang perlu diperhatikan yang menjadikan para lulusannya tidak siap bersaing di dunia kerja).

Ada 7 hal yang menyebabkan para lulusan tidak mampu memenangkan persaing kerja:

  1. Kurikulum yang Kurang Adaptif Sesuai Tuntutan pasar yang semakin tinggi  

Program dendidikan di sekolah menengah dan di perguruan tinggi selama ini menggunakan paket kurikulum yang berlaku secara permanen dalam satu periode pembelajaran dan bahkan dalam beberapa tahun ketika kurikulum tersebut diberlakukan, sementara perkembangan ilmu dan teknologi sangat cepat dimana perusasahaan sebagai pengguna tenaga kerja lulusan pendidikan terus menerus melakukan penyesuaian secara terus menerus agar mampu mempertahankan eksistensi, keberlangsungan (sustainable) dan keberlabaan (profitabilitas) usahanya. Dan untuk mencapai hal tersebut berdampak pada tingginya tuntutan perusahan pada kualitas input tenaga kerja yang akan direkrut bekerja di perusahaan tersebut.

Paket kurikulum yang diberlakukan di sekolah menengah dan pendidikan tinggi tersebut berdampak pada adanya gap antara tuntutan dunia kerja yang selalu update setiap saat, sehingga ketika mereka lulus mereka mengalami ketertinggalan informasi dan pengetahuan dan akhirnya tidak siap bersaing di dunia kerja.

 

 

  1. Pembekalan Keterampilan yang Minim: Penguasaan keterampilan kurang aplikatif

Penguasaan keterampilan kerja menjadi faktor yang sangat penting bagi calon tenaga kerja untuk memenangkan persaingan kerja. Selama ini banyak lulusan sekolah menengan dan pendidikan tinggi yang hanya menguasai keterampilan terbatas sesuai dengan pengetahuan yang diterima di tempat belajar yang sudah diatur sesuai paket kurikulum yang berlaku sehingga kurang match dengan kondisi riil di dunia kerja. Hal ini terlebih lulusan SLTA umum dan universitas yang memang lebih banyak disiapkan untuk memahami keilmuan tertentu.

Hal yang juga penting untuk diperhatikan adalah pemberian keterampilan pendukung bidang keahlian utama, dimana banyak lulusan pendidikan yang hanya mampu mengerjakan hanya keterampilan tertentu sedangkan keterampilan pendukung tidak dikuasai, sehingga menjadi kurang produktif di perusahaan karena untuk beberapa pekerjaan lain selalu tergantung pada karyawan lainnya. Sebaiknya tenaga kerja menguasai keahlian utama dengan terampil dan mahir serta menguasai keterampilan pendukung pekerjaan di keahlian tersebut dengan baik.

  1. Pembinaan Karakter yang Terbatas

Banyak tenaga kerja yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sangat bagus namun secara sikap kurang begitu baik, dimana ia tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, masih mengedepankan egoisme dan kurang mampu menempatkan diri dengan baik. Juga sikap-sikap selama di sekolah/universitas seringkali masih terbawa sehingga tampa tidak dewasa.

Selain sikap, mentalitas tenaga kerja sangat berpengaruh dan sering menjadi hambatan untuk memenangkan persaingan di tempat kerja antarai lain: mudah menyerah, tidak tahan banting, mudah merasa cukup dengan apa yang dicapainya, mudah merasa bekerja berlebihan, mudah merasa lelah dan lain-lain; sehingga ketika dihadapkan pada tantangan tertentu oleh pewawancara mereka menyerah dan kemudian gagal mendapatkan pekerjaan.

  1. Pemahaman Tentang Dunia Kerja Yang Kurang Sehingga Lulusannya  Cenderung Memilih-milih Pekerjaan yang Menyenangkan.

Kecenderungan tenaga kerja mereka selalu mencari pekerjaan yang cocok dan mudah bagi dirinya. Banyak calon tenaga kerja gagal mendapatkan pekerjaan karena mereka selalu memilih-milih yang mudah bagi dirinya, misalnya yang berada di dekat tempat tinggal, yang jam kerjanya rutin, yang tidak lebih banyak di ruangan, dan lain-lain. Para calon tenaga kerja tidak menyadari bahwa perusahaan merekrut tenaga kerja karena mereka mengharapkan dengan kehadiran tenaga kerja baru mampu memberikan kualitas dan hasil kerja yang lebih baik, dan untuk menghasilkan kualitas kerja yang baik harus dilakukan dengan kerja keras dan selalu tidak akan nyaman.

Juga seringkali calon tenaga kerja (khususnya yang mencari pekerjaan pertama) mereka selalu memilih dan memaksakan diri untuk mencari hanya pekerjaan yang sesuai dengan keterampilannya, padahal di perusahaan ada proses rolling jabatan/fungsi dimana pada saatnya setiap pegawai akan ditempatkan pada beberapa posisi tertentu agar perusahaan mengetahui potensi diri dari tenaga kerja bersangkutan. Fakta menunjukkan bahwa selama ini belum ada perguruan tinggi atau pendidikan formal yang membuka jurusan manajer atau direktur, dimana posisi tersebut diinginkan banyak orang dan untuk mencapainya butuh proses.

  1. Pembinaan Ketrampilan Komunikasi yang Kurang.

Kemampuan komunikasi sangat penting dikuasai oleh calon tenaga kerja, karena dengan komunikasi ia mampu mendekripsikan dirinya kepada orang lain (perusahaan). Kemampuan komunikasi yang berkualitas akan memberikan gambaran tentang penguasaan pengetahuan dan keterampilannya. Tidak sedikit tenaga kerja yang gagal mendapatkan pekerjaan di perusahaan karena gagal dalam wawacara kerja bukan karena tidak terampil atau tidak kompeten.

Mereka gagal karena tidak mampu menjawab pertanyaan dalam wawancara kerja sebagai pintu masuk untuk diterima kerja. Perusahaan akan menilai anda dari apa yang anda sampaikan dalam wawancara kerja. Peruahaan akan mengetahui jati diri anda dari informasi yang anda sampaikan pada saat wawancara. Jadi komunikasi sangat penting bagi tenag kerja.

  1. Pemahaman Tentang Kemandirian yang Kurang.

Beberapa kendala yang selama ini dialami oleh tenaga kerja adalah ketidakbersediaannya untuk bekerja di lokasi yang jauh dari orang tua, atau juga orang tuanya melarang untuk bekerja dilintas  kota. Hal ini terjadi karena mereka tidak terbiasa hidup mandiri atau yang bersangkutan selama ini tidak mampu membuat orang tua percaya bahwa dirinya mampu untuk hidup mandiri di tempat lain. Untuk itu diperlukan dorongan dan juga tempaan diri agar siap hidup mandiri.

Banyak fakta menunjukkan bahwa banyak orang sukses justeru ketika ia jauh dari kota tempat dia tinggal, dimana ia memiliki spirit bahwa pulang harus berhasil, ia merasa telah berkorban sehingga tidak ada alasan untuk tidak berhasil. Mereka yang jauh dari orang tua dan atau dari kota tempat dia tinggal akan terbebas dari rasa gengsi dengan orang-orang yang selama ini mengenalnya ketika ia harus bekerja apa saja. Dengan keluar kota ia akan mendapatkan banyak inspirasi dan pengetahuan, wawasan dan wacana baru tentang hidup dan kehidupan untuk masa depannya.

  1. Pembekalan dan Pembimbingan Rencana Masa Depan yang Sering dilakukan Hanya di Akhir Pendidikan.

Salah satu permasalahan di pendidikan adalah kurangnya pendampingan kepada siswa/mahasiswa/peserta didik dalam memikirkan dan merencanakan rencana jangka panjang setelah lulus dari pendidikan sehingga yang mereka jalani setiap hari hanya belajar sesuai dengan materi yang telah ditetapkan. Lulusan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi seringkali baru merancang melamar kerja dan atau mencari pekerjaan setelah lulus sehingga ada jeda menganggur dan ini dapat mengakibatkan keputusasaan yang kemudian semakin membuat mereka tidak memiliki motivasi dan daya juang yang tinggi untuk meraih pekerjaan yang diharapkan.

Tenaga kerja seharusnya memiliki rencana jauh-jauh hari sebelum lulus agar ia memiliki kesempatan untuk berbenah dan atau menambah keterampilan keahlian untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja dan harus punya target lulus langsung bekerja atau bahkan bekerja sebelum lulus.

  1. Minimnya Pelibatan Dudi di Lembaga Pendidikan

Adanya kesenjangan pendidikan dengan dunia kerja yang diindikasikan dengan kurangnya daya serap lulusan di dunia kerja antara lain karena pelibatan tenaga pendidik dari dunia kerja dan industri di lembaga pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Seringkali mereka hanya dihadirkan sesaat dalam bentuk pengajar/kuliah tamu dengan materi yang umum, sehingga yang diperoleh peserta sangat minim. Lembaga pendidikan menengah dan pendidikan tinggi lebih mengandalkan guru/dosen tetap yang selama ini mereka miliki, dimana mereka tidak terlalu banyak mengikuti perkemangan dunia usaha industri yang berkembang setiap saat. Proses pelibatan dunia usaha dan industri juga biasanya dilakukan dalam bentuk kunjungan usaha, namun seringkali lebih pada kunjungan untuk melihat proses produksi yang tidak ada kaitannya dengan keilmuan yang diperoleh oleh peserta didiknya.

Pelibatan tenaga penddikan dari dunia usaha dan industri penting dan strategis dimana mereka selalu mendapatkan update informasi seiring perkembangan dunia usaha dan idustri tersebut, juga mereka tidak hanya menguasai ilmunya tetapi menerapkan dalam aktifitas sehari-hari. Peralatan yang mereka gunakan untuk aplikasi sehari-hari juga selalu terbaharui.

  1. Minimnya Layanan Pasca Lulus dari Lembaga Pendidikan.

Layanan pasca lulus dari beberapa lembaga pendidikan menengah dan pendidikan tinggi  seringkali bersifat pasif, sehingga para lulusan kurang begitu respek dengan layanan tersebut. Mereka cenderung lepas setelah lulus dan tidak ada lagi komunikasi secara intensif dengan para lulusannya, baik yang sudah bekerja maupun yang belum bekerja.

di MAGISRA UTAMA layanan ini intensif dilakukan dimana selain memberikan layanan kepada mereka yang belum bekerja untuk membantu sampai berhasil, juga memberikan layanan kepada para lulusan yang suda bekerja untuk menambah keterampilan sesuai tuntutan di tempat kerja dan atau melayani mereka yang telah habis masa kontrak kerjanya untuk mengakses lowongan kerja yang ada di Bursa Kerja MAGISTRA UTAMA.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut maka diperlukan desain pendidikan dan pelatihan yang mampu menyiapkan sumber daya manusia Indonesia (tenaga kerja) yang tidak hanya ahli secara akademik tetapi juga memiliki penguasaan keterampilan yang selalu terbaharui dan selalu mengikuti dengan perkembangan infromasi, teknologi dan tuntutan dunia kerja.
[i] https://www.google.co.id/?gws_rd=cr,ssl&ei=TzuuU_XxNM-yuASBwIGIAQ#q=human+development+report+2013+pdf

[ii] http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=23&notab=1

Related Post